Home » , » Pemain Muslim Mengubah Liga Inggris

Pemain Muslim Mengubah Liga Inggris


TEMPO.CO, London - Selebrasi gol Demba Ba memang unik. Ketimbang bersorak jejingkrakan, penyerang Chelsea itu bersujud syukur di lapangan hijau. Bintang asal Senegal itu melakukannya sejak Februari 2012, saat membela Newcastle United. Di klub lamanya itu, dia malah bisa sujud berjemaah bareng rekan senegaranya, Papiss Cisse.

Selain Ba dan Cisse, saat ini terdapat 38 pemain muslim lain di Liga Primer Inggris, termasuk Edin Dzeko dan Yaya Toure di Manchester City serta Nicolas Anelka di West Bromwich Albion. Jumlah pemain muslim melonjak jauh ketimbang saat pertama liga bergulir, pada 1992. Waktu itu cuma ada Nayim di Tottenham Hotspur yang beragama Islam. Penyebabnya adalah meningkatnya jangkauan pencari bakat, dari kawasan elite di Paris sampai desa terpencil di Afrika Barat.

Sudah pasti 40 muslim itu membawa perubahan di Liga Inggris. Mereka, meski tidak semuanya, menuntut klubnya untuk membantu mereka menunaikan syariat Islam. Dari makanan halal dan minuman non-alkohol, jeda latihan untuk salat, sampai pemisahan tempat sewaktu mandi.

Tindakan mereka juga membuat Liga Inggris berubah. Pada Mei 2012, Yaya Toure menolak penghargaan man of the match di laga City melawan Newcastle dan menyerahkan botol sampanye--simbol gelar tersebut--kepada rekannya, Joleon Lescott. "Saya tidak minum ini karena saya muslim, kamu saja yang simpan," kata bintang 30 tahun asal Pantai Gading itu. Sejak itu, panitia liga menghapus botol sebagai lambang man of the match¬ dan menggantinya dengan piala mungil.

Pada bulan Ramadan--yang tahun ini berakhir pada 7 Agustus, 10 hari sebelum liga bergulir-- tuntutan tersebut bertambah. Periode tanpa makan dan minum sampai 18 jam membuat klub khawatir pemain muslim tidak akan optimal selama 90 menit di lapangan. Kebanyakan klub meminta pemainnya tidak berpuasa. Abou Diaby sempat mendapat permintaan serupa itu di Arsenal. "Tapi mereka paham Ramadan merupakan masa istimewa bagiku, jadi mereka memberi izin," ujar gelandang 27 tahun ini.

Ba segendang sepenarian. "Setiap kali manajer menggerutu soal puasa, saya selalu bilang, 'Kalau performaku tetap bagus, mainkan aku. Kalau jelek, turunkan aku ke bangku cadangan. Sederhana saja’," kata pria 28 tahun itu.

Banyaknya pemain muslim yang taat seperti Ba membuat klub dan pelatih Liga Inggris mau tak mau harus menyesuaikan diri. Newcastle, misalnya, yang memiliki tujuh pemain muslim, baru saja menyediakan ruang khusus untuk beribadah para pemainnya sebelum berlaga. “Kami menjaga pemain kami, juga latar belakang agamanya,” ucap Alan Pardew, pelatih klub itu. “Agama memiliki arti penting bagi sejumlah pemain kami.”
Diberdayakan oleh Blogger.